Warga Jabar Kini Prioritaskan Pencarian Kerja di Pedesaan
Bandung – Peta ketenagakerjaan di Jawa Barat (Jabar) kini menunjukkan fenomena menarik. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar mengungkapkan bahwa angka pengangguran di desa tidak lagi semata-mata menjadi indikator negatif. Sebaliknya, hal ini menjadi sinyal positif bahwa masyarakat pedesaan, termasuk kaum perempuan, semakin aktif berburu peluang kerja di daerah asalnya.
Kepala BPS Provinsi Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, Selasa (5/5), menjelaskan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jabar pada Februari 2026 secara umum membaik, berada di angka 6,64 persen atau sekitar 1,79 juta orang. Angka ini turun tipis 0,1 persen poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, di balik perbaikan tersebut, ada tren menarik: peningkatan pencari kerja di wilayah pedesaan yang mulai menahan laju urbanisasi ke pusat-pusat industri.
“Masyarakat tidak lagi sepenuhnya bergantung mencari pekerjaan ke kota. Mereka kini lebih memilih bertahan dan mencari peluang di desa sendiri,” terang Ari. Ia menambahkan, peningkatan angka pengangguran di pedesaan justru bisa dimaknai sebagai potensi besar. “Ini artinya, masyarakat pedesaan sudah mulai lebih aktif berpartisipasi di pasar kerja lokal,” imbuhnya.
Ari menyoroti bahwa kenaikan TPT di desa tidak selalu berkonotasi buruk. Sebaliknya, hal ini seringkali menandakan lonjakan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), terutama dari kaum perempuan yang berani keluar dari rutinitas rumah tangga untuk mencari pekerjaan atau bahkan merintis usaha baru di desa. “Ketika TPT naik, itu bisa berarti semakin banyak orang yang aktif di pasar kerja, baik yang sedang mencari pekerjaan maupun yang tengah menyiapkan usaha baru,” jelasnya.
Meski kondisi penyerapan tenaga kerja dalam setahun terakhir cukup baik, dengan bertambahnya 110,19 ribu pekerja, Ari mengingatkan adanya tantangan besar berupa disparitas atau ketimpangan ekonomi antarwilayah di Jabar yang masih lebar. Menurutnya, sangat penting untuk memperkuat lembaga ekonomi di tingkat desa agar pusat pertumbuhan tidak hanya terkonsentrasi di kawasan industri besar seperti Karawang atau Bekasi. Tanpa strategi pemerataan yang kuat, beban pengangguran hanya akan terus berpindah dan sulit untuk dituntaskan.
“Kita masih menghadapi ketimpangan, baik dari sisi ekonomi maupun pengangguran. Jika tidak ditangani serius, masyarakat akan terus berbondong-bondong ke wilayah tertentu seperti pusat industri. Oleh karena itu, penguatan aktivitas ekonomi di desa menjadi kunci penting untuk mengurangi disparitas ini,” tegas Ari.
Data BPS Jabar mencatat, dari total 26,89 juta angkatan kerja, sektor Perdagangan Besar dan Eceran masih menjadi tulang punggung utama, menyerap 21,81 persen tenaga kerja. Disusul oleh sektor Industri dengan 18,32 persen, dan Pertanian sebesar 15,57 persen.
Dari segi status pekerjaan, pasar kerja Jabar masih didominasi oleh sektor informal, mencakup 55,80 persen atau sekitar 14,01 juta orang, sementara pekerja formal berjumlah 44,20 persen atau 11,09 juta orang. Mayoritas penduduk yang bekerja juga masih didominasi oleh lulusan SD sebanyak 8,58 juta orang (34,18 persen), sedangkan lulusan sarjana (S1-S3) baru mencapai 11,31 persen.
