KH Husin Naparin: Mengenang Jejak Ulama Kharismatik dari Kalahiang Balangan
Duka mendalam menyelimuti Kalimantan Selatan setelah wafatnya ulama kharismatik KH Husin Naparin pada Rabu, 6 Mei 2026. Beliau meninggal dunia di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Banjarbaru pada usia 79 tahun.
Kepergian KH Husin Naparin meninggalkan kehilangan besar bagi masyarakat Banua. Selain dikenal sebagai ulama panutan, beliau juga aktif berdakwah dan berkontribusi dalam dunia pendidikan Islam.
KH Husin Naparin lahir di Desa Kalahiang, Balangan, pada 10 November 1947. Beliau merupakan putra pasangan H Muhammad Arsyad dan Hj Rusiah. Dalam perjalanan hidupnya, beliau didampingi sang istri, Dra Hj Unaizah Hanafie.
Semangat menuntut ilmu sudah terlihat sejak muda. Setelah menempuh pendidikan di SRN Kalahiang, PGA Al-Hasaniyah Layap Paringin, dan Normal Islam Putra Rakha Amuntai, beliau melanjutkan studi ke IAIN Antasari Banjarmasin dan lulus pada 1969.
Tak hanya belajar di Indonesia, KH Husin Naparin juga menimba ilmu di luar negeri. Beliau pernah belajar di Universitas Al-Azhar Mesir, Punjab University Pakistan, hingga Islamic University Islamabad.
Selain pendidikan formal, beliau aktif mengikuti berbagai pelatihan dan penataran. Dengan demikian, wawasan keislaman dan kepemimpinannya terus berkembang sepanjang hidup.
Dalam perjalanan organisasi, KH Husin Naparin pernah aktif di berbagai organisasi pelajar dan keagamaan. Bahkan, beliau pernah menjadi Bendahara Persatuan Pelajar Indonesia di Kairo dan penasihat pelajar Indonesia di Pakistan.
Sementara itu, dunia pendidikan menjadi salah satu bidang pengabdian utama beliau. KH Husin Naparin pernah menjadi dosen di STAI Al-Jami Banjarmasin, UIN Antasari, hingga sejumlah perguruan tinggi Islam lainnya di Kalimantan Selatan.
Tak hanya mengajar, beliau juga dikenal produktif menulis. Tercatat, KH Husin Naparin telah menerbitkan puluhan buku, makalah ilmiah, dan ribuan artikel sejak tahun 1974.
Selain itu, beliau memiliki peran penting dalam menjadikan Masjid Jami Banjarmasin sebagai Masjid Percontohan Nasional sekitar tahun 2016. Prestasi tersebut menjadi salah satu warisan besar beliau bagi masyarakat Banua.
Kini, kepergian KH Husin Naparin meninggalkan duka mendalam bagi umat Islam di Kalimantan Selatan. Namun demikian, ilmu, keteladanan, dan perjuangan beliau akan terus dikenang sepanjang masa.
